English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Minggu, 15 Januari 2012

KESULITAN-KESULITAN BELAJAR


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Pendidikan akan mengalami keberhasilan ketika seorang siswa melalui proses belajarnya dengan baik.
Namun dalam menjalani proses belajar, tiap individu tentu mencetak hasil yang berbeda-beda. Tak jarang mengalami proses kegagalan. Hal  ini terjadi diantaranya dilatarbelakangi oleh kemampuan intelektual, fisik, latar belakang keluarga dan pendekatan yang berbeda antara siswa satu dengan yang lain.Selain itu, kesulitan-kesulitan belajar yang dialami siswa juga menjadi faktor utama terjadinya kegagalan belajar.
Kesulitan-kesulitan itu punya beragam bentuknya, serta dilatarbelakangi oleh banyak hal pula. Tentu proses belajar akan belajar maksimal ketika kesulitan-kesuliatan belajar tersebut bisa teratasi. Namun untuk menemukan solusi atas problematiuka tersebut, sudah sepatutnya harus mengetahui tentang pengertian, faktor penyebab dan manifestasi kesulitan belajar terlebih dahulu.Hal-hal tersebut akan kami paparkan pada makalah kami.
1.2. Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian kesulitan belajar?
2.    Apa saja faktor-faktor kesulitan belajar?
3.    Bagaimana bentuk-bentuk kesulitan belajar?
1.3.Tujuan
1.      Mengetahui pengertian kesulitan belajar
2.      Mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya kesulitan belajar
3.      Mengetahui bentuk-bentuk kesulitan belajar
  1. Mengidentifikasi berbagai permasalahan kesulitan pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana anak didik tidak dapat belajar secara wajar,  disebabkan adanya ancaman, hambatan, ataupun gangguan dalam belajar.
Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.
1.      Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
2.      Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
3.      Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
4.      Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
5.      Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
2.2. Faktor-faktor Kesulitan Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar secara garis besar ada dua macam yaitu:
1.      Faktor internal
Yakni kesulitan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri. Faktor internal siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa yakni:
a. Bersifat kognitif (cipta) antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual siswa.
b. Bersifat afektif (rasa) antara lain seperti labilnya emosi dan sikap
c.    Bersifat psikomotor (karsa) antara lain seperti terganggunya alat-alat indra penglihat dan pendengar.
2.      Faktor eksternal
Yakni kesulitan yang datang dari luar diri siswa. Faktor eksternal siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktifitas belajar siswa.
a.         Keluarga
Keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama. Tetapi dapat juga sebagai faktor penyebab kesulitan belajar. Yang termasuk faktor ini antara lain seperti cara mendidik orang tua  yang salah, hubungan kurang harmonis antara orang tua dan anak, tauladan buruk dari orang tua seta kondisi ekonomi yang terlampau kaya atau miskin,
b.      Lembaga pendidikan atau sekolah
Begitu juga sekolah juga bisa menjadi faktor penyebab kesulitan belajar diantaranya:
-          Terdapat masalah pada guru, diantaranya guru tidak sesuai kelifikasi keilmuan, hubungan guru dengan murid kurang baik, dan guru menuntut standard pelajaran diatas kemampuan murid-muridnya.
-          Alat pelajaran yang kurang lengkap.
-          Kondisi gedung yang tidak kondusif, seperti terlalu sempit/lebar, dekat dengan pasar dan lain sebagainya.
-          Kurikulum yang kurang baik, misalnya bahan-bahannya terlalu tinggi, pembagian bahan tidak seimbang dan lain sebagainya.
-          Waktu sekolah yang tidak efektif, misalnya masuk sekolah terlalu lama, masuk sekolah pada siang atau malam hari dan lain-lain.
c.       Lingkungan
Lingkungan yang salah juga akan menimbukan kesulitan dalam belajar. Misalnya teman bergaul yang rusak, lingkungan tetangga yang tidak harmonis, dan terlalu padat dalam mengikuti organisasi atau kursus.
d.      Negara
Aturan dari negara yang kurang mendukung proses belajar mengajar juga bisa menjadi faktor penyebab kesulitan belajar
2.3.Bentuk-Bentuk Kesulitan Belajar   
Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif . Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :
1.      Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
2.      Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
3.      Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
4.      Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
5.      Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
6.      Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
7.        Sindrom (syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis yang menimbulkan kesulitan belajar terdiri atas :
  1. Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca
  2. Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis
  3. Diskalkulia(dyscalculia), yakni  ketidakmampuan belajar matematika.
Gangguan ini bukan bentuk dari ketidakmampuan fisik, seperti karena ada masalah dengan penglihatan, tapi mengarah pada bagaimana otak mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca anak tersebut. Kesulitan ini biasanya baru terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah untuk beberapa waktu.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana anak didik tidak dapat belajar secara wajar,  disebabkan adanya ancaman, hambatan, ataupun gangguan dalam belajar. Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar secara garis besar ada dua macam yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor Internal mencakup pada faktor  pada diri pribadi yakni mencakup Bersifat kognitif (cipta), Bersifat afektif (rasa), Bersifat psikomotor (karsa) . Sedang faktor eksternal siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktifitas belajar siswa, yaitu keluarga, lembaga pendidikan atau sekolah, lingkungan dan negara.
Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif . Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :
-          Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
-          Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
-          Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
Sindrom (syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis yang menimbulkan kesulitan belajar terdiri atas :
-          Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca
-          Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis
-          Diskalkulia(dyscalculia), yakni  ketidakmampuan belajar matematika.
Gangguan ini bukan bentuk dari ketidakmampuan fisik, seperti karena ada masalah dengan penglihatan, tapi mengarah pada bagaimana otak mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca anak tersebut. Kesulitan ini biasanya baru terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah untuk beberapa waktu.



DAFTAR PUSTAKA
Crow, L & Crow, A. 1989. Psychologi Pendidikan. Yogyakarta: Nur Cahaya
Purwanto, Ngalim. 1996. Psikologi Pendidikan. Cetakan ke-11. Bandung: Remaja Rosdakarya
Suryabrata, Sumadi. 1984. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali.
Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Cetakan ke-15. Bandung: Remaja Rosdakarya

0 komentar:

Poskan Komentar