English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sabtu, 13 April 2013

PEMILIHAN MATERI, PENDEKATAN, METODE DAN STRATEGI BERDASAR PSIKOLINGUISTIK


BAB I
PENDAHULUAN


1.      Latar Belakang
Program pengajaran bahasa arab untuk non aran termasuk hal baru. Awal kegiatan pengajaran ini dimulai pada sepuluh tahun terakhir sejak abad 13 Hijriah. Program pengajaran bahasa arab saat itu masih menggunakan semua metode pembelajaran tradsional. Yaitu metode Grammar Translation Method.[1]
Belajar Bahasa Arab (asing) berbeda dengan belajar bahasa ibu, oleh karena itu prinsip dasar pengajarannya harus berbeda, baik menyangkut metode (model pengajaran), materi maupun proses pelaksanaan pengajarannya. Bidang keterampilan pada penguasaan Bahasa Arab meliputi kemampuan menyimak (listening competence/mahaarah al – Istima’), kemampuan berbicara (speaking competence/mahaarah al-takallum), kemampuan membaca (reading competence/mahaarah al-qira’ah), dan kemampuan menulis (writing competence/mahaarah al – Kitaabah).
Setiap anak manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk menguasai setiap bahasa, walaupun dalam kadar dan dorongan yang berbeda. Adapun diantara perbedaan-perbedaan tersebut adalah tujuan-tujuan pengajaran yang ingin dicapai, kemampuan dasar yang dimiliki, motivasi yang ada di dalam diri dan minat serta ketekunannya.
Pembelajaran bahasa arab sampai hari ini masih menjadi fenomena dan problem akut. Problem tersebut termanivestasikan dalam beberapa hal yang banyak kita temukan dalam lembaga-lembaga pendidikan di negeri ini, baik di sekolahan umum, madrasah, pondok pesantren, maupun perguruan tinggi. Sehingga pembelajaran bahasa arab tidak dapat berkembang dan tidak mampu meningkatkan kualitas bahasa arab peserta didik. Realitas ironis tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
Pertama, kualitas dan kompetensi guru yang tidak baik dan tidak memenuhi standarisasi guru bahasa arab yang profesional, baik kompetensi secara keilmuan, maupun kompetensi secara metodologis. Dalam pembelajaran bahasa arab guru tidak begitu memahami hakikat bahasa yang ia ajarkan dan tidak menggunakan pendekatan, metode dan strategi yang  relevan dan efektif. Permasalahan tentang guru ini sangat rumit, terkadang ada guru bahasa arab yang memiliki kompetensi keilmuan baik, tapi lemah dan minim dalam kompetensi metodologis, dan terkadang juga kita temukan guru bahasa arab yang memiliki kompetensi metodologis, tapi lemah dalam kompetensi keilmuan. Akhirnya, belum banyak kita temukan guru yang memiliki dua kompetensi tersebut secara baik.
Kedua, peserta didik yang tidak atau kurang memiliki semangat dan ambisi untuk belajar bahasa arab, sehingga menghambat proses pembelajaran dan menjadikan pembelajaran tidak efektik. Hal ini disebabkan faktor latar belakang peserta didik yang berbeda-beda, sehingga mempengaruhi niat atau orentasi belajar mereka. Permasalahan siswa ini tidaklah merupakan faktor utama yang menjadi problem dalam pemebelajaran bahasa arab, karena murid adalah sebagai objek penerima bahasa, sedangkan guru adalah pentransfer bahasa kepada siswa dan yang menjadikan bahasa arab suatu hal yang penting dan menarik.
 Ketiga, metode dan strategi pembelajaran bahasa arab yang digunakan belum relevan atau tidak efektif, sehingga bahasa sulit dan sukar dipelajari, dan murid pada akhirnya enggan dan malas serta tidak tertarik belajar bahasa arab.
 Keempat, fasilitas pembelajaran bahasa arab yang tidak memadahi. Padahal, fasilitas merupakan unsur urgen dalam pembelajaran bahasa arab. Tapi jika kita perhatikan masih banyak kita temui lembaga-lembaga pendidikan yang belum memiliki media atau fasilitas yang memadai, sehingga pembelajaran bahasa arab diajarkan dan disampaikan dengan media-media yang monoton dan klasik, pada akhirnya siswa merasa jenuh dan tidak tertarik belajar bahasa arab.
 Dan kelima, pendekatan dalam pembelajaran bahasa arab yang kurang efektif dan tidak dapat menjadikan siswa tertarik dan merasa senang untuk mempelajari bahasa arab, karena pendekatan pembelajaran bahasa arab selama ini kurang mempertimbangkan pendekatan yang berdasarkan pada ilmu psikologi dan lingustik atau psikolingustik. Sehingga bahasa arab diajarkan dengan menggunakan pendekatan yang tidak sesuai  dengan karakter bahasa arab dan tidak mempertimbangkan psikologis-sosiologis peserta didik.
2.      Rumusan Masalah
a.       Bagaimana pendekatan pembelajaran bahasa berdasar psikolinguistik?
b.      Bagaimana metode pembelajaran bahasa berdasar psikolinguistik?
c.    Bagaimana strategi pembelajaran bahasa berdasar psikolinguistik?
d.      Bagaiamana Pemilihan materi bahasa berdasar psikolinguistik?























BAB II
PEMBAHASAN

2.1.       Pendekatan Pembelajaran Bahasa Berdasar Psikolinguistik
Pendekatan adalah seperangkat asumsi berkenaan dengan hakikat bahasa dan hakikat belajar mengajar bahasa. Pendekatan mencerminkan suatu falsafah, pandangan, pegangan dan pendirian dalam melihat, memahami dan mendekati suatu objek atau permasalahan. Dalam konteks bahasa arab, seorang guru seharusnya menggunakan pendekatan yang relevan dan efektif dalam melihat dan memahami hakikat bahasa arab dan hakikat peserta didik. Pendekatan adalah suatu pegangan utama seorang guru untuk melakukan suatu proses pembelajaran, menentukan metode, strategi dan materi serta media. Tanpa menggunakan pendekatan yang relevan dan efektif, seorang guru bahasa arab akan tidak terarah dan merasa kesulitan dalam proses pembelajaran.
Dalam khazanah keilmuan kita, ada beberapa pendekatan dalam pembelajaran bahasa arab. Terlepas dari kelemahan yang dimiliki masing-masing pendekatan, setiap pendekatan memiliki karakteristik dan titik tekan spesifik dalam memandang hakekat bahasa dan hakekat peserta didik. Menurut penulis, sudah saatnya kita untuk tidak memperpanjang perdebatan di antara aliran-aliran pendekatan, tapi bagaimana titik tekan atau kelebihan tiap-tiap pendekatan dapat diitegrasikan dan diaplikasikan dalam pembelajaran bahasa arab.
Pendekatan dalam pembelajaran bahasa ada 4. Yaitu pendekatan humanistic, pendekatan teknik dan pendekatan analisis dan non analisis.dan pendekatan komunikatif.[2]
Pendekatan  humanistic(humanistic approach) yaitu pendekatan yang memeberikan perhatian kepada pembelajar sebagai manusia, tidak menganggapnya sebagai benda yang merekam seperangkat pengetahuan.[3]
Pendekatan teknik (media-based approach) yaitu pendekatan berdasar pemanfaatan media pembelajaran dan teknik-teknik pendidikan. Pendaekatan ini berpendapat bahwa media dan teknik pembelajaran sangat berperan dalam menyampaikan pengalaman belajar serta bisa merubah pengalaman belajar menjadi pengalaman yang nyata/terindra.[4] Pendekatan analysis(analytical Approach) dikenal dengan sebutan formal approach. Pendekatan ini didasarkan pada seperangkat ungkapan-ungkapan dan asumsi asumsi kebahasaan dan sosiolinguistik.Sedang Non alitycal approach didasarkan pada konsep psikolinguistik.[5]
Pendekatan Non analisis berdasarkan pada konsep psikolinguistik dan pendidikan, bukan pada konsep kebahasaan.Pendekatan ini dekenal juga dengan istilah global dan integrated naturalistic. Pengajaran bahasa berlangsung dalam kehidupn yang alami. Dan difokuskan pada tema-tema yang berhubungan dengan kehidupan siswa dan aspek-aspek kehidupan manusia umumnya. [6]
Pendekatan komunikatif adalah pendekatan yang menekankan pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi, sehingga dalam aplikasinya, pendekatan ini menuntut pebelajaran yang komunikatif antara guru dan siswa serta memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran
Apabila kita amati, pendekatan di atas dapat kita terapkan secara integratif dan saling menguatkan serta saling melengkapi antara satu dan lainnya. Kelemahan akan muncul ketika kelima pendekatan di atas diaplikasikan secara terpisah, karena setiap pendekatan memiliki satu aspek pertimbangan yang perlu dilengkapi oleh asperk pertimbangan pendekatan yang lain. Dengan mengintegrasikan pendekatan di atas, maka kita dapat menerapkan pembelajaran yang aktif, komunikati, cerdas secara kognitif dan berbicara serta berbasis media.


2.2.       Metode Pembelajaran Bahasa Berdasar Psikolinguistik
Seorang guru bahasa arab harus memahami ilmu psikologi dan linguistik atau psikolinguistik dalam mengajarkan bahasa arab. Mengajarkan bahasa kepada anak kecil berbeda dengan mengajarkan bahasa arab kepada anak besar, karena secara psikologis anak kecil dan anak besar memiliki perkembangan kecerdasan yang berbeda. Anak kecil belajar bahasa arab dengan jalan meniru orang disekitarnya di mana dia hidup. Lingkungan yang mengelilingi anak sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran bahasa arabnya. Oleh karena itu, disinilah peran sekolah untuk mampu menciptakan lingkungan yang kondusif agar peserta didik dapat belajar bahasa arab dengan mudah dan cepat  
Penerapan metode pengajaran tidak akan berjalan dengan efektif dan efisien sebagai media pengantar materi pengajaran bila penerapannya tanpa didasari dengan pengetahuan yang memadai tentang metode itu. Sehingga metode bisa saja akan menjadi penghambat jalannya proses pengajaran, bukan komponen yang menunjang pencapaian tujuan, jika tidak tepat aplikasinya. Oleh karena itu, penting sekali untuk memahami dengan baik dan benar tentang karakteristik suatu metode.
Dalam pembelajaran bahasa ada lima metode, Pertama, metode nahwu dan tarjama. Metode ini dalam aplikasinya menekankan pada analisis penggunaan nahwu dan praktek penerjemahan. Kedua, metode mubasyaroh, yaitu metode pembelajaran bahasa yang lebih menekankan pada penggunaan bahasa arab ketika proses interaksi pembelajaran di kelas. Ketiga, metode audio lingual, metode ini menekankan pada praktek berbicara dan mendengarkan dalam proses pembelajaran bahasa arab. Keempat, metode Qiroah, yaitu metode yang lebih menekankan pada praktek membaca dalam proses pembelajaran. Kelima, metode Ma’rifiyah, yaitu metode yang menekankan pada materi dan pelatihan materi.
Metode audio-lingual masih mendominasi metode pembelajaran bahasa arab untuk non arab, khususnya di lembaga resmi, seperti di universitas, dan pusat-pusat bahasa milik pemerintah. Program pengajaran bahasa arab mengadopsi metode audio-lingual dalam waktu yang panjang. Berdasarkan metode ini, dibuatlah rancangan pelajaran, kurikulum dan buku ajar. [7]
            Metode audio-lingual merupakan salah satu metode yang didasarkan asas psikolinguistik. Metode ini mencerminkan pertemuan antara teori aliran behaviorisme dalam psikologi dan teori structural dalam linguistic. Bahasa adalah gejala lisan yang terucap dan tidak tertulis. Ada dua keahlian yaitu mendengar dan mengucap yang didahulukan daripada kemahiran membaca dan menulis. Hal ini didasarkan pada tingkat penguasaan bahasa oleh manusia dalam proses pemerolehan bahasa berdasarkan ilmu psikolinguitik.
Bahasa juga merupakan kebiasaan dan tingkah laku, yang diperoleh dengan cara yang sama dengan adat dan kebiasaan tingkah laku yang lainnya. Bahasa juga merupakan bahasa yang digunakan oleh penutur secara alami dalam kehidupannya sehari-hari. Namun perlu diketahui bahwasanya Metode audio-lingual bukanlah satu-datunya metode yang dilahirkan oleh aliran strukturalis-behaviorisme. .

2.3.       Strategi Pembelajaran Bahasa Berdasar Psikolinguistik
Empat kompetensi bahasa arab dapat diterapkan secara bersamaan dan integratif, tanpa harus memisah-misahkan satu dengan yang lainnya, karena bahasa merupakan suatu sistem satu kesatuan. Menurut teori psikologi, bahwa akal manusia lebih dahulu mendeteksi keseluruhan sebelum mendeteksi bagian-bagian. Dalam artian, dalam proses belajar bahasa akal peserta didik lebih mudah menangkap jika keempat kompetensi bahasa arab diajarkan secara bersamaan dalam satu kesempatan, tidak diajarkan secara terpisah. Karena pembelajaran kompetensi bahasa arab secara terpisah, peserta didik biasanya kesulitan dalam mengubungan satu sama lainnya. Misalnya ta’bir, istima’, qiroah, kitabah, nahwu dan shorof diajarkan secara terpisah, maka ketika peserta didik diperintah untuk menerapkan membaca atau menulis dan menyusun kata sesuai kaidah nahwu dan shorof akan mengalami kebingungan dan kesulitan
Oleh karena itu, pembelajaran bahasa arab secara terpisah-pisah bagi pemula akan membingungkan dan menyulitkan. Pembelajaran bahasa arab secara terpisah-pisah dapat diterapkan bagi peserta didik yang telah baik bahasanya. Jika dalam kontek sekolahan, pembelajaran bahasa arab secara integratif hendaknya diterapkan pada tingkatan dasar. Adapun yang terpisapisah dapat diterapkan pada tingkatan lanjutan atau perguruan tunggi. Tetapi bagaimana pun , penerapan pembelajaran bahasa arab secara integratif atau terpisah berdasarkan pada tingkat penguasaan dan kemampuan peserta didik terhadap bahasa, tidak hanya berdasarkan pada tingkatan dalam sistem pendidikan.
2.4.       Pemilihan Materi Bahasa Berdasar Psikolinguistik
Materi merupakan pegangan guru dan siswa dalam proses pembelajaran bahasa arab. Dengan menggunakan materi, arah pembelajaran bahasa arab akan terarah dan jelas. Tapi jika kita amati, sampai saat ini masih banyak lembaga sekolahan yang menggunakan meteri bahasa arab yang belum relevan dan efektif, sehingga perlu adanya revisi dan pembenahan.
Menurut penulis dalam membuat dan menyusun materi, isi materi harus mencakup beberapa komponen, yaitu empat kompetensi, ta’bir, istima’, qiroah dan kitabah, mufrodat dan qowaidun Nahwiyah serta menentukan media praktek yang digunakannya. Komponen tersebut harus ada dalam materi bahasa arab, agar pembelajaran bahasa dipelajari secara menyeluruh dan siswa dapat dengan mudah menguasai maharoh dan kaidah bahasa arab dengan baik dan aplikatif
Penyusunan sebagaimana di atas adalah model penuyusunan bahan ajar yang inregrated curukulum, yaitu menyajikan bahan pembelajaran atau materi secara unit dan keseluruhan, tanpa mengadakan pembatasan-pembatasan satu mata pelajaran atau maharoh dengan yang lainnya.[8]Salah satu contoh buku ajar bahasa arab yang menggunakan model inregrated curukulum adalah Al-Arobiyatu Baina Yadaika. Model penyusunan seperti ini, menurut penulis sangat baik dan efektif dalam pembelajaran bahasa arab, karena mencakup semua maharoh, qowa’idun nahwiyah dan mufrodat.
BAB III
PENUTUP

1.        Kesimpulan
            Pendekatan dalam pembelajaran bahasa arab yaitu ada 4, pendekatan humanistic, pendekatan teknik dan pendekatan analisis dan non analisis.dan pendekatan komunikatif. Sedangkan metode yang berdasarkan asas psikolinguistik yaitu pendekatan non analisis.
            Metode dalam pembelajaran bahasa arab yaitu metode nahwu wa tarjamah, metode qiroah, metode audio lingual, metode mubsyaroh. Metode yang berjalan berdasar konsep psikolinguistik yaitu metode audio lingual.
            Strategi dalam pembelajaran bahasa arab yang berdasarkan psikolinguistik yaitu Empat kompetensi bahasa arab dapat diterapkan secara bersamaan dan integratif, tanpa harus memisah-misahkan satu dengan yang lainnya, karena bahasa merupakan suatu sistem satu kesatuan
            Pemilihan materi berdasar psikolinguistik yaitu Menurut penulis dalam membuat dan menyusun materi, isi materi harus mencakup beberapa komponen, yaitu empat kompetensi, ta’bir, istima’, qiroah dan kitabah, mufrodat dan qowaidun Nahwiyah serta menentukan media praktek yang digunakannya
2.        Saran
Makalah ini sangat jauh dari sempurna. Untuk itu kritik dan saran yang membangun kami tunggu.










DAFTAR PUSTAKA

M. Zaini, 2009. Pengembangan kurikulum: Konsep Implementasi, Evaluasi dan Inovasi, cetakan I, Yogyakarta: TERAS

Prof.Dr.Abdul Aziz bin Ibrahim.2009,Psikolinguistik Pembelajaran Bahasa Arab. Humaniora: Bandung,

Abdul Hamid,dkk.2008.Pembelajaran Bahasa Arab..Uin Malang Press:Malang

Ratna Andi Irawan· Membangun Sistem Pembelajaran Bahasa Arab Yang Integratif.Makalah. 2011. http:Uncategoriez. Diakses pada jumat, 7 Desember 2012.






[1] Prof.Dr.Abdul Aziz bin Ibrahim el-Ushaili..Psikolingistik Pembelajaran Bahasa Arab. 126
[2] Abdul Hamid,dkk.Pembelajaran Bahasa Arab.2008.Uin Malang Press:Malang hal5
[3] Ibid,  hal5

[4] Ibid, op.cit. hal6

[5] Ibid, op.cit  hal7

[6] Ibid, op.cit  hal 8

[7][7] Prof.Dr.Abdul Aziz bin Ibrahim,Psikolinguistik Embelajaran Bahasa Arab.2009.Humaniora: Bandung,hal 127
[8] M. Zaini, Pengembangan kurikulum: Konsep Implementasi, Evaluasi dan Inovasi, cetakan I, (Yogyakarta: TERAS, 2009), hal. 71



0 komentar:

Poskan Komentar